Jumat, 11 Mei 2018
Jumat, 08 Desember 2017
Jumat, 06 Oktober 2017
Jumat, 29 September 2017
Senin, 19 Desember 2016
pengelolaan kelas
Pengelolaan kelas
Menurut Hadari Nawawi Pengelolaan
kelas dapat diartikan sebagai kemampuan guru atau wali kelas dalam
mendayagunakan potensi kelas berupa pemberian kesempatan yang seluas-luasnya
pada setiap personal untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang kreatif dan terarah
sehingga waktu dan dana tersedia dapat dimanfaatkan secara efisien untuk
melakukan kegiatan kegiatan kelas yang berkaitan dengan kurikulum dan
perkembangan murid.
Definisi pengelolaan kelas atau
pengelolaan kelas yang dipetik dari informasi Pendidikan Nasional bahwa ada
lima definisi pengelolaan kelas sebagaimana berikut ini.
1.
Pengelolaan
kelas yang bersifat otoritatif, yakni seperangkat kegiatan guru untuk
menciptakan dan memertahankan ketertiban suasana kelas, disiplin sangat
diutamakan.
2.
Pengelolan
kelas yang bersifat permisif, yakni pandangan ini menekankan bahwa tugas guru
adalah memaksimalkan perwujudan kebebasan siswa. Dalam hal ini guru membantu
siswa untuk merasa bebas melakukan hal yang ingin dilakukannya. Berbuat
sebaliknya berarti guru menghambat atau menghalangi perkembangan anak secara
alamiah.
3.
Pengelolaan
kelas yang berdasarkan prinsip-prinsip pengubahan tingkah
laku (behavioral modification), yaitu seperangkat kegiatan guru untuk
mengembangkan tingkah laku siswa yang diinginkan dan mengurangi atau meniadakan
tingkah laku yang tidak diinginkan. Secara singkat, guru membantu siswa dalam
mempelajari tingkah laku yang tepat melalui penerapan prinsip-prinsip yang
diambil dari teori penguatan (reinforcement).
4.
Pengelolaan
kelas sebagai proses penciptaan iklim sosio-emosional yang positif di dalam kelas.
Pandangan ini mempunyai anggaran dasar bahwa kegiatan belajar akan berkembang
secara maksimal di dalam kelas yang beriklim positif, yaitu suasana hubungan
interpersonal yang baik antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa. Untuk
terciptanya suasana seperti ini guru memegang peranan kunci. Peranan guru
adalah mengembangkan iklim sosio-emosional kelas yang positif melalui
pertumbuhan hubungan interpersonal yang sehat. Dengan demikian, pengelolaan
kelas adalah seperangkat kegiatan guru untuk mengembangkan hubungan
interpersonal yang baik dan iklim sosio-emosional kelas yang positif.
5.
Pengelolaan
kelas yang bertolak dari anggapan bahwa kelas merupakan sistem sosial dengan
proses kelompok (group process) sebagai intinya. Dalam kaitan ini dipakailah
anggapan dasar bahwa pengajaran berlangsung dalam kaitannya dengan suatu
kelompok. Dengan demikian, kehidupan kelas sebagai kelompok dipandang mempunyai
pengaruh yang amat berarti terhadap kegiatan belajar, meskipun belajar dianggap
sebagai proses individual. Peranan guru adalah mendorong berkembangnya dan
berprestasinya sistem kelas yang efektif. Dengan demikian, pengelolaan kelas
adalah seperangkat kegiatan guru untuk menumbuhkan dan memertahankan organisasi
kelas yang efektif (Depdikbud, 1982).
Disimpulkan
bahwa pengelolaan kelas adalah kemampuan atau keterampilan guru dalam
mendayaguankan potensi siswa melalui stimulasi guru, motivasi, inovasi dan
lainnya dengan tujuan mengupayakan siswa agar memahami dan menguasai
pembalajaran serta membangkitkan pola pikir yang luas dan berbeda.
Dalam pengelolaan kelas materi yang saya gunakan yaitu
materi Fluida, dimana materi ini mengharuskan membagi kelompok untuk siswa SMA
dalam pembelajaran fisika, materi ini cocok dengan pendekatan
kerja kelompok, dalam pendekatan ini guru menciptakan kondisi – kondisi yang
memungkinkan kelompok yang produktif, selain itu guru juga harus dapat menjaga
kondisi itu agar tetap baik. Dalam pendekatan kelompok , materi ini dibagi
secara adil dan sama, artinya tidak ada siswa yang merasa sulit mempelajari
materi ini, selain itu siswa juga dilatih untuk belajar bertanggung jawab untuk
memahami dan mempelajari hal masing masing materi yang telah diberikan dan
dibagi guru. Kemudia siswa belajar secara mandiri dengan menemukan sendiri ilmu
yang ada. Pendekatan ini memungkinkan siswa aktif dalam belajar, guru sebagai
pengarah, pembimbing dan pengevaluasi materi yang dipelajari siswa.
Kemudian saya menggunakan model
pembelajaran untuk mengelola kelas saya yaitu menggunakan model pembelajaran,
terdapat banyak sekali model pembelajaran , namun model pembelajaran yang akan
saya gunakan yaitu model pembelajaran Jigsaw. Model pembelajaran jigsaw adalah
sebuah model belajar kooperatif yang menitik beratkan kepada kerja kelompok
siswa dalam bentuk kelompok kecil, seperti yang diungkapkan Lie ( 1993: 73),
bahwa pembelajaran kooperatif model jigsaw ini merupakan model belajar kooperatif
dengan cara siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri atas empat sampai
dengan enam orang secara heterogen dan siswa bekerja sama salaing ketergantungan
positif dan bertanggung jawab secara mandiri.
Dalam model
pembelajaran jigsaw ini siswa memiliki banyak kesempatan untuk
mengemukanakan pendapat, dan mengelolah imformasi yang didapat dan dapat
meningkatkan keterampilan berkomunikasi, anggota kelompok bertanggung jawab
atas keberhasilan kelompoknya dan ketuntasan bagian materi yang dipelajari, dan
dapat menyampaikan kepada kelompoknya ( Rusman, 2008.203).
Sebelum saya menerapkan dengan model
pembelajaran, guru harus tau bahwa guru sebagai fasilitator, pengendali,
pengarah , dan evaluator.
A. Guru
sebagai pengarah
Artinya guru membimbing siswa untuk
belajar, dari awal pembelajaran sampai akhir pembelajaran, dimana guru harus
paham apa tujuan dari pembelajaran fluida, bagaimana trik dalam memusatkan
perhatian siswa, guru juga harus menjadi pembimbing dan pengarah yang jelas
agar ia tau apa yang menjadi kesulitan siswa dalam mempelajari fluida.
B. Guru
sebagai pengendali
Artinya guru membari peraturan dalam
belajar, artinya siswa harus mematuhi aturan tersebut, seperti saat guru
menjelaskan siswa harus mendengarkan, jika tidak, guru harus memberi teguran,
guru juga harus tau apa saja penyimpangan-penyimpangan yang akan dilakukan
siswa saat belajar, kemudian guru juga harus bisa mengatasi keadaan tersebut,
kemudian guru harus bisa mengetahui kendala-kendala yang dihadapi siswa saat
belajar, lalu mengetahui cara mengatasi kendala tersebut. Dengan adanya peran
guru sebagai pengendali maka siswa menjadi lebih mudah belajar dan mendidik
siswa untuk belajar patuh, serta dapat membuat siswa lebih teratur dan disiplin
dalam belajar. Guru juga harus memahami karakteristik setiap siswa serta guru
harus mempunyai tehnik tersendiri dalam menghadapi dan mengajar siswa yang
berkepribadian dan bersikap yang berbeda-beda. Guru juga berhak menentukan
aturan tatanan tempat duduk siswa agar siswa tidak bosan dalam belajar dan
lebih tau dan lebihbdekat terhadap teman sekelas, hal ini menghindari pola
belajar dan pola tempat duduk siswa yang monoton dan cenderung berkelompok dan
memilih sendiri-sendiri tanpa mengadakan kerjasama dan tidak mengenali
teman-temannya, maka hal ini membuat siswa monoton, sehingga guru harus efektif
san efisien dalam mengatur tempat duduk siswa dengan adil dan secara merata
tanpa memandang beda kemampuan dan status.
C. Guru
sebagai fasilitator
Artinya guru harus memahami apa saja
peralatan dan fasilitas yang digunakan untuk belajar materi fluida, fasilitas
yang dibutuhkan yaitu meja guru, kursi guru, papan tulis, infokus, laptop, buku
untuk belajar siswa yang akan dipinjamkan diperpustakaan, guru harus pandai
untuk menyiapkan materi agar penjabaran materi secara garis besar dapat
dipahami siswa dengan mudah.
D. Guru
sebagai Evaluator
Artinya guru dapat mengevaluasi
diakhir pembelajaran, guru dapat menambahkan kembali materi yang belum lengkap,
kemudian guru juga member motivasi untuk membantu siswa dalam menerapkannya
dalam kehidupan sehari hari, guru juga harus kreatif dalam membuat motivasi,
agar siswa mudah dalam menerapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Langkah-langkah Model Pembelajaran
Kooperatif (Cooperative Learning) Jigsaw
1.
Guru membuka pelajaran dan memusatkan perhatian
Guru harus memulai pelajaran tepat
waktu, guru membuka pelajaran tepat waktu,
guru harus bisa mengalihkan perhatian anak untuk memperhatikan
penjelasan guru. Guru juga harus berwibawa agar anak didiknya bisa patuh dan
menghargai.
2.
Guru menyampaikan tujuan
Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dari materi fluida
yang akan disampaikan, dalam menyampaikan tujuan, guru tidak sembarangan,
artinya guru dapat membimbing, membimbing dan memandu dari setiap aktivitas
yang harus dilakukan siswa, Petunjuk yang diberikan harus bersifat langsung,
dengan bahasa yang jelas dan tidak membingungkan serta dengan tuntutan yang
wajar dapat dipenuhi oleh siswa.
3. Guru menyajikan informasi materi
kepada siswa dan member motivasi siswa
Materi yang disampaikan guru hanya garis besar saja , dalam
pengelolaan kelas ini, guru menjadi sebuah pusat informasi dan pembimbing
siswa. Seorang guru
harus dapat menguasai benar materi yag akan diajarkan juga media yang akan
digunakan bahkan lingkungan sendiri juga termasuk sebagai sember belajar yang
harus dipelajari oleh seorang guru. Seorang siswa mempunyai beberapa kemampuan
menyerap materi berbeda-beda oleh karena itu pendidik harus pandai dalam
merancang media untuk membantu siswa agar mudah memahami pelajaran.
Keterampilan untuk merancang media pembelajaran adalah hal yang pokok yang
harus dikuasai, sehingga pelajaran yang akan diajarkan bisa dapat diserap
dengan mudah oleh peserta didik. Media pembelajaran di dalam kelas banyak
macamnya misalkan torsu, chart maket, LCD, OHP/OHT.
Kemudian guru memberi motivasi kepada siswa Manager
mengelola kelas, tanpa kemampuan ini maka performence dan karisma guru akan
menurun, bahkan kegiatan pembeajaran bisa kacau tanpa tujuan. Guru sebagai
pengelola kelas, agar anak didik betah tinggal di kelas dengan motivasi yang
tinggi untuk senantiasa belajar di dalamnya. Beberapa fungsi guru sebagai
pengelola kelas: merancang tujuan pembelajaran mengorganisasi beberapa sumber
pembelajaran dan memotivasi, mendorong, serta menstimulasi siswa. Ada 2
macam dalam memotivasi belajar bisa dilakukan dengan hukuman atau dengan
reaward. Dalam rangka materi pembelajaran fluida ini, saya sebagai seorang guru
akan memberikan suatu reaward bagi siswa yang mampu menjawab kuis saya. Yaitu
yang berhubungan dengan materi fluida. Guru juga harus membangkitkan semangat
dan tanggung jawab siswa untuk belajar berpikir mandiri dan secara berkelompok.
Agar siswa dilatih untuk bertanggung jawab dan belajar memahami tugasnya
masing-masing.
4. Guru membagi suatu kelas menjadi
beberapa kelompok
Dengan setiap
kelompok terdiri dari 5 siswa dengan kemampuan yang berbeda. Kelompok ini
disebut kelompok asal. Jumlah anggota dalam kelompok asal menyesuaikan dengan
jumlah bagian materi pelajaran yang akan dipelajari siswa sesuai dengan tujuan
pembelajaran yang akan dicapai. Dalam tipe Jigsaw ini, setiap siswa diberi
tugas mempelajari salah satu bagian materi pembelajaran tersebut. Semua siswa
dengan materi pembelajaran yang sama belajar bersama dalam kelompok yang
disebut kelompok ahli (Counterpart Group/CG). Dalam kelompok ahli, siswa
mendiskusikan bagian materi pembelajaran yang sama, serta menyusun rencana
bagaimana menyampaikan kepada temannya jika kembali ke kelompok asal. Kelompok
asal ini oleh Aronson disebut kelompok Jigsaw (gigi gergaji). Kelas saya dengan jumlah 30 siswa dan materi
pembelajaran yang akan dicapai sesuai dengan tujuan pembelajarannya terdiri
dari 5 bagian materi pembelajaran yaitu materi fluida statis, fluida dinamis,
aplukasi fluida statis dalam kehidupan sehari hari, aplikasi fluida dinamis
dalam kehidupan sehari-hari dan hubungan fluida statis dan fluida dinamis, maka
dari 30 siswa akan terdapat 5 kelompok ahli yang beranggotakan 6 siswa dan 6
kelompok asal yang terdiri dari 5 siswa. Setiap anggota kelompok ahli akan
kembali ke kelompok asal memberikan informasi yang telah diperoleh atau
dipelajari dalam kelompok ahli. Guru memfasilitasi diskusi kelompok baik yang
ada pada kelompok ahli maupun kelompok asal. Dalam pengeloaan kelas disini guru
sebagai fasilitator yang memberi fasilitas seperti meminjamkan buku yang ada
diperpustakaan agar kemampuan belajar dan berpikir siswa luas, guru juga
memperbolehkan siswa untuk browsing diinternet menggunakan komputer sekolah
untuk menambah literature siswa.
5. Setelah siswa berdiskusi dalam kelompok ahli
maupun kelompok asal,
mereka kemudian diarahkan untuk kembali kekelompok asal untuk
menceritakan materi apa yang mereka diskusikan dan pelajari, dalm menyampaikan
informasi, guru member intruksi agar sejelas mungkin siswa dalam menjelaskan
materi yang dibahas dikelompok tadi. Selanjutnya dilakukan presentasi
masing-masing kelompok atau dilakukan pengundian salah satu kelompok untuk
menyajikan hasil diskusi kelompok yang telah dilakukan agar guru dapat
menyamakan persepsi pada materi pembelajaran yang telah didiskusikan. Dalam presentasi
siswa, guru mengarahkan dan membimbing siswa dalam menyampaikan hasil diskusi,
guru harus menarik perhatian siswa agar situasinkondusif tanpa gangguan dari
lingkungan, guru harus membuat siswa perhatian saat siswa lain menjelaskan,
kemudian guru juga member fasilita siswa yaitu infokus, spidol, pennghapus,
kemudian guru juga membimbing dalam waktu yang akan dibutuhkan dan dibatasi
untuk presentasi siswa, jika ada yang lebih dari batasan waktum, guru juga
berhak menegur dan membatasi siswa supaya waktunya cukup.
6. Guru memberikan kuis untuk siswa
secara individual.
Dalam memberikan kuis, guru harus
memberi kuis sesuai materi, guru tidak boleh memberi kuis diluar materi, selain
itu, guru mmeberi soal kuis dengan membacakan soal , siapa yang bisa menjawab
dia tunjuk tangan, lalu siapa yang tercepat maka guru memilih siswa tersebut
tanpa pilih kasih, lalu siswa menjawab, dalam mengelola kelas, , guru memilih
dan membagi secara adil, tidak boleh pilih kasih.
7. Guru memberikan penghargaan atau
reaward pada kelompok melalui skor penghargaan
berdasarkan perolehan nilai peningkatan hasil belajar
individual dari skor dasar ke skor kuis berikutnya. bagi siswa yang salah
menjawab, maka guru harus memberikan penguatan atau semangat dan motivasi agar
siswa tersebut tetap semangat dan termotivasi dalam belajar.
8. Guru menyimpulkan dan mengevaluasi
pembelajaran
Setelah kuis, maka guru memberikan kesimpulan dan evaluasi
materi pelajaran tentang fluida, kesimpulannya berupa garis besarnya saja,
kemudian guru membenarkan materi yang sekiranya kurang tepat, lalu guru
mengevaluasi pembelajaran Evaluator atau menilai sangat penting adalah rangkaian
pembelajaran karena setiap pembelajaran pada akhirnya adalah nilai yang dilihat
baik kuantitatif maupun kualitatif. Rangkaian evaluasi meliputi persiapan,
pelaksanaan, evaluasi. Tingkat pemikiran ada beberapa tingkatan antara lain
mengetahui, mengerti, mengaplikasikan, analisis, sintesis (analisis dalam
berbagai sudut), evaluasi.
Manfaat evaluasi bisa digunakan
sebagai umpan balik untuk siswa sehingga hasil nilai ini bukan hanya suatu
point saja melainkan menjadi solusi untuk mencari kelemahan di pembelajaran
yang sudah diajarkan. Hal -hal yang paling penting dalam melaksanakan evaluasi.
Harus dilakukan oleh semua aspek baik efektif, kognitif dan
psikomotorik. Evaluasi dilakukan secara terus menerus dengan pola hasil
evaluasi dan proses evaluasi. Evalusi dilakuakan dengan berbagai proses
instrument harus terbuka.
9. Guru menutup pelajaran
Sebelum guru menutup pelajaran. Guru terlebih dahulu
menyampaikan materi pertemuan selanjutnya, guru menyampaikan dengan jelas dan
terarah, kemudian guru kembali memotivasi siswa tentang pembelajaran fluida .
contohnya “fluida itu ada disekitar kita, maka ayo pahami, pelajari dan amati”,
untuk membuat anak-anak lebih termotivasi, kemudian guru mengucapkan terima
kasih atas perhatian murid, kemudian guru mengucapkan salam pada murid, lalu
guru merapikan semua fasilitas seperti mematikan infokus, menyuruh siswa
menghapus papan tulis dan mengembalikan buku perpustakaan.
Dengan adanya pengelolaan kelas,
maka guru akan lebih mudah dalam memberikan pengajaran kepada siswa-siswanya,
siswa-siswa menjadi termotivasi, menjadi lebih semangat dalam belajar. Keberhasilan
pengelolaan kelas tidak lepas dari kerjasama guru, siswa dan pihak sekolah.
Serta kerja keras guru dalam mendidik dan mengajarkan siswa dalam memotivasi
dan member inisiatif untuk siswanya. Pengelolaan kelas sangat penting bagi guru
dikarenakan untuk mencapai pemahaman dan mencapai tujuan dari materi yang
diajarkan, guru juga dengan mudah dapat memahami situasi dan memiliki tehnik
dalam mengahadapi bberbagai model karakteristik siswa didalam pembelajaran yang
berlangsung.
model pembelajaran picture and picture
MODEL PEMBELAJARAN PICTURE AND
PICTURE
Salah satu model yang saat ini
populer dalam pembelajaran adalah Model Pembelajaran Picture and Picture ini
merupakan salah satu bentuk model pembelajaran kooperatif. Model pembelajaran
kooperatif merupakan suatu model pembelajaran yang mengutamakan adanya
kelompok-kelompok. Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang secara
sadar dan sistematis mengembangkan interaksi yang saling asah, silih asih, dan
silih asuh. Model pembelajaran Picture and Picture adalah suatu metode belajar
yang menggunakan gambar dan dipasangkan / diurutkan menjadi urutan logis.
Pembelajaran ini memiliki ciri Aktif, Inovatif, Kreatif, dan Menyenangkan. Model apapun yang digunakan selalu menekankan aktifnya peserta didik dalam setiap proses pembelajaran. Inovatif setiap pembelajaran harus memberikan sesuatu yang baru, berbeda dan selalu menarik minat peserta didik. Dan Kreatif, setiap pembelajarnya harus menimbulkan minat kepada peserta didik untuk menghasilkan sesuatu atau dapat menyelesaikan suatu masalah dengan menggunakan metoda, teknik atau cara yang dikuasai oleh siswa itu sendiri yang diperoleh dari proses pembelajaran.
Model Pembelajaran ini mengandalkan gambar sebagai media dalam proses pembelajaran. Gambar-gambar ini menjadi factor utama dalam proses pembelajaran. Sehingga sebelum proses pembelajaran guru sudah menyiapkan gambar yang akan ditampilkan baik dalam bentuk kartu atau dalam bentuk carta dalam ukuran besar. Atau jika di sekolah sudah menggunakan ICT dalam menggunakan Power Point atau software yang lain.
Menurut Johnson & Johnson , prinsip dasar dalam model pembelajaran kooperatif picture and picture adalah sebagai berikut:
1. Setiap anggota kelompok (siswa) bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dikerjakan dalam kelompoknya.
2. Setiap anggota kelompok (siswa) harus mengetahui bahwa semua anggota kelompok mempunyai tujuan yang sama.
3. Setiap anggota kelompok (siswa) harus membagi tugas dan tanggung jawab yang sama di antara anggota kelompoknya.
4. Setiap anggota kelompok (siswa) akan dikenai evaluasi.
5. Setiap anggota kelompok (siswa) berbagi kepemimpinan dan membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya.
6. Setiap anggota kelompok (siswa) akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.
Sesuai dengan namanya, tipe ini menggunakan media gambar dalam proses pembelajaran yaitu dengan cara memasang/mengurutkan gambar-gambar menjadi urutan yang logis. Melalui cara seperti ini diharapkan siswa mampu berpikir dengan logis sehingga pembelajaran menjadi bermakna.
Pembelajaran ini memiliki ciri Aktif, Inovatif, Kreatif, dan Menyenangkan. Model apapun yang digunakan selalu menekankan aktifnya peserta didik dalam setiap proses pembelajaran. Inovatif setiap pembelajaran harus memberikan sesuatu yang baru, berbeda dan selalu menarik minat peserta didik. Dan Kreatif, setiap pembelajarnya harus menimbulkan minat kepada peserta didik untuk menghasilkan sesuatu atau dapat menyelesaikan suatu masalah dengan menggunakan metoda, teknik atau cara yang dikuasai oleh siswa itu sendiri yang diperoleh dari proses pembelajaran.
Model Pembelajaran ini mengandalkan gambar sebagai media dalam proses pembelajaran. Gambar-gambar ini menjadi factor utama dalam proses pembelajaran. Sehingga sebelum proses pembelajaran guru sudah menyiapkan gambar yang akan ditampilkan baik dalam bentuk kartu atau dalam bentuk carta dalam ukuran besar. Atau jika di sekolah sudah menggunakan ICT dalam menggunakan Power Point atau software yang lain.
Menurut Johnson & Johnson , prinsip dasar dalam model pembelajaran kooperatif picture and picture adalah sebagai berikut:
1. Setiap anggota kelompok (siswa) bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dikerjakan dalam kelompoknya.
2. Setiap anggota kelompok (siswa) harus mengetahui bahwa semua anggota kelompok mempunyai tujuan yang sama.
3. Setiap anggota kelompok (siswa) harus membagi tugas dan tanggung jawab yang sama di antara anggota kelompoknya.
4. Setiap anggota kelompok (siswa) akan dikenai evaluasi.
5. Setiap anggota kelompok (siswa) berbagi kepemimpinan dan membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya.
6. Setiap anggota kelompok (siswa) akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.
Sesuai dengan namanya, tipe ini menggunakan media gambar dalam proses pembelajaran yaitu dengan cara memasang/mengurutkan gambar-gambar menjadi urutan yang logis. Melalui cara seperti ini diharapkan siswa mampu berpikir dengan logis sehingga pembelajaran menjadi bermakna.
Langkah-langkah dalam Model Pembelajaran Picture and Picture adalah sebagai
berikut:
1. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai
Di langkah ini guru diharapkan untuk menyampaikan apakah yang menjadi Kompetensi Dasar mata pelajaran yang bersangkutan. Dengan demikian maka siswa dapat mengukur sampai sejauh mana yang harus dikuasainya. Disamping itu guru juga harus menyampaikan indicator-indikator ketercapaian KD, sehingga sampai dimana KKM yang telah ditetapkan dapat dicapai oleh peserta didik. dalam hal ini saya menggunakan fase-fase bulan sebagai materi pembelajaran saya.
1. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai
Di langkah ini guru diharapkan untuk menyampaikan apakah yang menjadi Kompetensi Dasar mata pelajaran yang bersangkutan. Dengan demikian maka siswa dapat mengukur sampai sejauh mana yang harus dikuasainya. Disamping itu guru juga harus menyampaikan indicator-indikator ketercapaian KD, sehingga sampai dimana KKM yang telah ditetapkan dapat dicapai oleh peserta didik. dalam hal ini saya menggunakan fase-fase bulan sebagai materi pembelajaran saya.
2. Menyajikan materi sebagai pengantar.
Penyajian materi sebagai pengantar sesuatu yang sangat penting, dari sini guru memberikan momentum permulaan pembelajaran. Kesuksesan dalam proses pembelajaran dapat dimulai dari sini. Karena guru dapat memberikan motivasi yang menarik perhatian siswa yang selama ini belum siap. Dengan motivasi dan teknik yang baik dalam pemberian materi akan menarik minat siswa untuk belajar lebih jauh tentang materi yang dipelajari.
3. Guru menunjukkan/memperlihatkan gambar-gambar kegiatan berkaitan dengan materi.
Dalam proses penyajian materi, guru mengajar siswa ikut terlibat aktif dalam proses pembelajaran dengan mengamati setiap gambar yang ditunjukan oleh guru atau oleh temannya. Dengan Picture atau gambar kita akan menghemat energy kita dan siswa akan lebih mudah memahami materi yang diajarkan. Dalam perkembangakan selanjutnya sebagai guru dapat memodifikasikan gambar atau mengganti gambar dengan video atau demontrasi yang kegiatan tertentu.
4. Guru menunjuk/memanggil siswa secara bergantian memasang/mengurutkan gambar-gambar menjadi urutan yang logis.
Di langkah ini guru harus dapat melakukan inovasi, karena penunjukan secara langsung kadang kurang efektif dan siswa merasa terhukum. Salah satu cara adalah dengan undian, sehingga siswa merasa memang harus menjalankan tugas yang harus diberikan.
Gambar-gambar yang sudah ada diminta oleh siswa untuk diurutan, dibuat, atau dimodifikasi.
5. Guru menanyakan alasan/dasar pemikiran urutan gambar tersebut.
Setelah itu ajaklah siswa menemukan rumus, tinggi, jalan cerita, atau tuntutan KD dengan indicator yang akan dicapai. Ajaklah sebanyak-banyaknya peran siswa dan teman yang lain untuk membantu sehingga proses diskusi dalam PBM semakin menarik.
6. Dari alasan/urutan gambar tersebut guru memulai menanamkan konsep/materi sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai.
Dalam proses diskusi dan pembacaan gambar ini guru harus memberikan penekanan-penekanan pada hal ini dicapai dengan meminta siswa lain untuk mengulangi, menuliskan atau bentuk lain dengan tujuan siswa mengetahui bahwa hal tersebut penting dalam pencapaian KD dan indicator yang telah ditetapkan. Pastikan bahwa siswa telah menguasai indicator yang telah ditetapkan. dari materi fase bulan tersebut.
7. Kesimpulan/rangkuman
Di akhir pembelajaran, guru bersama siswa mengambil kesimpulan sebagai penguatan materi pelajaran, dan penutup pelajaran.
Kelebihan dan kekurangan model
pembelajaran Picture and Picture:
Kelebihan:
1. Guru lebih mengetahui kemampuan masing-masing siswa.
2. Melatih berpikir logis dan sistematis.
3. Membantu siswa belajar berpikir berdasarkan sudut pandang suatu subjek bahasan dengan memberikan kebebasan siswa dalam praktik berpikir,
4. Mengembangkan motivasi untuk belajar yang lebih baik.
5. Siswa dilibatkan daiam perencanaan dan pengelolaan kelas
Kekurangan:
1. Memakan banyak waktu
2. Banyak siswa yang pasif.
3. Guru khawatir bahwa akan terjadi kekacauan dikelas.
4. Banyak siswa tidak senang apabila disuruh bekerja sama dengan yang lain
5. Dibutuhkan dukungan fasilitas, alat dan biaya yang cukup memadai
KESIMPULANKelebihan:
1. Guru lebih mengetahui kemampuan masing-masing siswa.
2. Melatih berpikir logis dan sistematis.
3. Membantu siswa belajar berpikir berdasarkan sudut pandang suatu subjek bahasan dengan memberikan kebebasan siswa dalam praktik berpikir,
4. Mengembangkan motivasi untuk belajar yang lebih baik.
5. Siswa dilibatkan daiam perencanaan dan pengelolaan kelas
Kekurangan:
1. Memakan banyak waktu
2. Banyak siswa yang pasif.
3. Guru khawatir bahwa akan terjadi kekacauan dikelas.
4. Banyak siswa tidak senang apabila disuruh bekerja sama dengan yang lain
5. Dibutuhkan dukungan fasilitas, alat dan biaya yang cukup memadai
Model pembelajaran Picture and Picture adalah suatu metode belajar yang menggunakan gambar dan dipasangkan / diurutkan menjadi urutan logis. Pembelajaran ini memiliki ciri Aktif, Inovatif, Kreatif, dan Menyenangkan. Model Pembelajaran ini mengandalkan gambar sebagai media dalam proses pembelajaran. Gambar-gambar ini menjadi factor utama dalam proses pembelajaran.
laporan LDR elektronika dasar
LAPORAN
PROJECT ELEKTRONIKA DASAR 1
“ADAPTOR”
DOSEN
PENGAMPU : Fibrika Rahmat Basuki, S.Pd., M.Pd

Disusun
oleh : Kelompok
Anggota :
1. Anjar Widaningrum (A1C315022)
2. Jumainah (A1C315037)
3. Muhammad Nuruzzaman (A1C315011)
4. Nindi Ayu Latiffah (A1C315017)
5. Yuhani Agustri (A1C315034)
6. Yulia Ningsih (A1C315027)
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN FISIKA
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
JAMBI
2016
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan
Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan karunianya, sehingga kami dapat menyelesaikan Laporan
Project Elektronika Dasar 1 yang berjudul “Adaptor” ini. Tujuan dari pembuatan laporan ini adalah
untuk memenuhi
salah satu tugas mata kuliah Elektronika Dasar 1 pada Program Studi Pendidikan
Fisika di Universitas Jambi.
Laporan ini terdiri dari lima sub bab utama yaitu
pendahuluan, kajian pustaka,
metode, hasil dan pembahasan serta penutup. Penjelasan mengenai pengertian, komponen-komponen, dan prinsip kerja dari adaptor akan dijelaskan pada kajian pustaka.. Sedangkan mengenai hasil dari
pembuatan Adptor akan dijabarkan
didalam pembahasan.
Dengan
selesainya laporan ini tidak terlepas dari bantuan banyak pihak yang telah ikut membantu dalam
menyelesaikan laporan
ini. Untuk
itu kami mengucapkan banyak
terimakasih.
kami
menyadari bahwa masih banyak kekurangan dari laporan ini, baik dari materi
maupun teknik penyajiannya, mengingat kurangnya pengetahuan dan pengalaman
penulis. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan.
Demikianlah, semoga laporan ini
dapat bermanfaat bagi para
pembaca. Khususnya bagi mahasiswa-mahasisiwi Fakultas Keguruaan dan Ilmu
Pendidikan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kependidikan.
Jambi,
Desember 2016
Tim
Penyusun
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1.Latar
Belakang
Dalam
penelitian ilmu pengetahuan peranan elektronika telah memasyarakat.
Peralatan-peralatan dalam kimia, fisika, dan biologi banyak sekali yang menggunakan
elektronika yang amat canggih. Demikian juga alat-alat uji dan ukur yang
digunakan dibengkel-bengkel elektronik dan laboratorium ilmu dan teknilogi.
Dinegara
kita kemampuan dalam bidang elektronika amat diperlukan untuk melakukan
reparasi peralatan yang rusak, maupun untuk merancang peralatan elektronika.
Perancangan masih ada pada taraf menggunakan kompone-komponen elektronika yang
tersedia dipasaran dan rangkaiannya pada PCB (Printed Circuit Board) serta
salah satu komponen pentingnya ialah Transistor beserta LDR.
LDR merupakan resistor yang dapat
berubah-ubah nilai tahanannya tergantung pada besar kecilnya penerimaan cahaya.
Hal tersebut dapat dimanfaatan dalam melakukan pembuatan sensor cahaya dengan
memanfaatkan kepakan terhadap perubahan cahaya untuk upaya optimasi penggunaan
energi listrik yang digunakan dalam penerangan lampu. Prinsip dasar yang
digunakan dalam pemanfaatan resistor LDR sebagai komponen sensor ini pada
perubahan nilai tahanan dan jumlah arus yang mengalir pada rangkaian. Sehingga
sebelum lebih jauh mengenal proses perancangan sensor sebaiknya menguasahi
dahulu dalam melakukan pengukuran terhadap tahanan dan arus listrik pada
kondisi cahaya yang berbeda-beda.
Oleh
karena ini praktikum mengenai rangkaian LDR ini sangat bermanfaat dalam belajar
menyangkut mata perkuliahan Elektronika Dasar mengenai pengukuran tahanan dan
arus pada suatu rangkaian LDR. Untuk hal
diatas mutlak diperlukan kemampuan untuk berfikir dalam bidang elektronika,
sehingga dengan melihat rangkaian elektronika yang baru dikenal segera dapat
memikirkan fungsi masing-masing komponen didalam rangkaian. Dengan kemampuan
ini kita akan dapat memperbaiki peralatan elektronik, atau membuat perlatan
berdasar pada gambar rangkaian, serta mengadakan perubahan-perubahan untuk
meningaktakn kemampuan yang ada.
Sebagai mahasiswa Pendidikan Fisika
yang dituntut mempunyai keahlian dalam melakukan optimasi dan control terhadap
berbagai proses kejadian cahaya dan penerangan, lampu atau penerang dengan
menggunakan sensor. Oleh karena itu, praktikum mengenai pengukuran tahanan dan
jumlah arus yang mengalir dalam sebuah rangkaian LDR pada setiap kondisi cahaya
yang berbeda dapat bermanfaat dalam mengasah dan melatih kemampuan mahasiswa
sebagai dasar dalam pembuatan sensor khususnya sensor cahaya.
1.2.Rumusan
Masalah
1.
Apakah pengertian dan kegunaan dari
sensor cahaya LDR?
2.
Apa saja komponen- komponen untuk
membuat Sensor cahaya LDR?
3.
Bagaimana Prinsip kerja LDR?
1.3.Tujuan
1.
Mengetahui pengertian dan keguanaan
sensor cahaya LDR?
2.
Mengetahui komponen- komponen untuk
membuat sensor cahaya LDR
3.
Memahami Prinsip kerja LDR
BAB
11
KAJIAN
PUSTAKA
2.1.
Pengertian Sensor Cahaya LDR
Sensor cahaya adalah alat yang
digunakan untuk mengubah besaran cahaya menjadi besaran listrik. Salah satu
jenis sensor cahaya yaitu LDR sensor (Light
Dependent Risistor) merupakan suatu element yang konduktivitasnya
berubah-ubah tergantung dari intensitas cahaya yang diterima permukaan element
tersebut., akan tetapi keluaran yang ada pada sensor tidak sama dengan apa yang
diketahui dari sebuah teori dan hasi simulasi (Romi Widyadinata,2014:2).
LDR
adalah suatu komponen elektronika yang memiliki hambatan yang dapat berubah
sesuai perubahan intensitas cahaya. LDR adalah singkatan dari Light
Dependent Resistor atau Resistor yang terpengaruh cahaya. Hambatan dari LDR
akan berkurang seiring semakin besarnya intensitas cahaya yang mengenai
permukaannya (Samsul Hidayat,Dkk,2009:2)
Light Dependent Resistor atau yang
biasa disebut LDR adalah jenis resistor yang nilainya berubah seiring
intensitas cahaya yang diterima oleh komponen tersebut. Biasa digunakan sebagai
detektor cahaya atau pengukur besaran konversi cahaya. Light Dependent
Resistor, terdiri dari sebuah cakram semikonduktor yang mempunyai dua buah
elektroda pada permukaannya.Pada saat gelap atau cahaya redup, bahan dari
cakram tersebut menghasilkan elektron bebas dengan jumlah yang relatif
kecil.Sehingga hanya ada sedikit elektron untuk mengangkut muatan
elektrik.Artinya pada saat cahaya redup LDR menjadi konduktor yang buruk, atau
bisa disebut juga LDR memiliki resistansi yang besar pada saat gelap atau
cahaya redup.Pada saat cahaya terang, ada lebih banyak elektron yang lepas dari
atom bahan semikonduktor tersebut. Sehingga akan ada lebih banyak elektron
untuk mengangkut muatan elektrik. Artinya pada saat cahaya terang LDR menjadi
konduktor yang baik, atau bisa disebut juga LDR memiliki resistansi yangkecil
pada saat cahaya terang (Mustofa, 2013:2-3).
LDR
merupakan salah satu jenis resistor yang disebut sebagai fotoresistor. Nilai
hambatan LDR dipengaruhi oleh cahaya yang diterima dari lingkungan sekitar.
Resistansi LDR dapat berubah-ubah tergantung pada intensitas cahaya yang
diterima oleh LDR itu sendiri (Supatmi, 2011). Untuk menghitung tegangan
keluaran pada LDR digunakan persamaan berikut.
𝑉𝑜 = 𝐿𝐷𝑅
(2)
dimana:
Vo = Tegangan
keluaran
LDR = Resistansi
LDR
R1 = Resistor
Vcc
= Tegangan masuk
2.2.
Komponen- komponen untuk membuat sensor cahaya
A. Transistor
Transistor adalah komponen
elektronika yang mempunyai tiga buah terminal. Terminal itu disebut emitor,
basis, dan kolektor. Transistor seakan-akan dibentuk dari penggabungan dua buah
dioda. Dioda satu dengan yang lain saling digabungkan dengan cara menyambungkan
salah satu sisi dioda yang senama. Dengan cara penggabungan seperti dapat
diperoleh dua buah dioda sehingga menghasilkan NPN.

Gambar 1. Komponen transistor NPN
Keterangan :
C = kolektor
E = emitter
B = basis
B.
Resistor
Sebuah resistor sering disebut werstan, tahanan atau
penghambat, adalah suatu komponen elektronik yang dapat menghambat gerak
lajunya arus listrik. Resistor disingkat dengan huruf "R"
(huruf R besar). Satuan resistor adalah Ohm.
Gambar 2.
fisik macam-macam resistor
Kemampuan resistor untuk menghambat disebut juga resistensi
atau hambatan listrik. Besarnya diekspresikan dalam satuan Ohm. Suatu resistor
dikatakan memiliki hambatan 1 Ohm apabila resistor tersebut menjembatani beda
tegangan sebesar 1 Volt dan arus listrik yang timbul akibat tegangan tersebut
adalah sebesar 1 ampere, atau sama dengan sebanyak 6.241506 × 1018 elektron
1per detik mengalir menghadap arah yang berlawanan dari arus.
C.
LDR
LDR
digunakan untuk mendeteksi intensitas cahaya, yang mana intensitas cahaya
sendiri dinyatakan dalam dua satuan fisika, yaitu lumens per meter persegi dan
Watt per meter persegi. Kedua satuan itu agak berbeda. yang satu berdasarkan
pada kepekaan mata manusia, yang satu lagi berdasarkan energi listrik yang
dialirkan ke sumber cahaya.
Gambar
3. Simbol Bentuk fisik LDR
Karakteristik
LDR
LDR adalah suatu bentuk komponen yang mempunyai perubahan
resistansi yang besarnya tergantung pada cahaya. Karakteristik LDR terdiri dari
dua macam yaitu Laju Recovery dan Respon Spektral:
1. Laju Recovery
Bila sebuah LDR dibawa dari suatu
ruangan dengan level kekuatan cahaya tertentu ke dalam suatu ruangan yang
gelap, maka bisa kita amati bahwa nilai resistansi dari LDR tidak akan segera
berubah resistansinya pada keadaan ruangan gelap tersebut. Namun LDR tersebut
hanya akan bisa mencapai harga di kegelapan setelah mengalami selang waktu
tertentu. Laju recovery merupakan suatu ukuran praktis dan suatu kenaikan nilai
resistansi dalam waktu tertentu. Harga ini ditulis dalam K/detik, untuk LDR
tipe arus harganya lebih besar dari 200K/detik (selama 20 menit pertama mulai
dari level cahaya 100 lux), kecepatan tersebut akan lebih tinggi pada arah
sebaliknya, yaitu pindah dari tempat gelap ke tempat terang yang memerlukan
waktu kurang dari 10 ms untuk mencapai resistansi yang sesuai dengan level
cahaya 400 lux.
2. Respon Spektral
LDR tidak mempunyai sensitivitas
yang sama untuk setiap panjang gelombang cahaya yang jatuh padanya (yaitu
warna). Bahan yang biasa digunakan sebagai penghantar arus listrik yaitu
tembaga, aluminium, baja, emas dan perak. Dari kelima bahan tersebut tembaga
merupakan penghantar yang paling banyak, digunakan karena mempunyai daya hantar
yang baik (TEDC,1998)
D. Potensiometer
Potensiometer merupakan variable
resistor yang paling sering digunakan. Pada umumnya, potensiometer terbuat
dari kawat atau karbon. Potensiometer yang terbuat dari kawat merupakan
potensiometer yang telah lama lahir pada generasi pertama pada waktu rangkaian
elektronika masih menggunakan tabung hampa (vacuum tube). Potensiometer
dari kawat ini memiliki bentuk yang cukup besar, sehingga saat ini sudah jarang
ada yang memakai potensiometer seperti ini.
Pada umumnya, potensiometer logaritmik
memiliki perubahan resistansi yang cukup unik karena nilai maksimal dari
resistansi diperoleh ketika kita telah melakaukan setengah kali putaran pada
pengaturnya. Sedangkan, nilai minimal diperoleh saat pengaturnya berada pada titik
nol atau titik maksimal putaran. Untuk dapat mengetahui apakah potensiometer tersebut
linier atau logaritmik, dapat dilihat huruf yang tertera di bagian belakang badannya.
Jika tertera huruf B, maka potensiometer tersebut logaritmik. Jika huruf A, maka
potensiometer linier. Pada umumnya, nilai resistansi juga tertera pada bagian depan
badannya. Nilai yang tertera tersebut merupakan nilai resistansi maksimal dari potensiometer.
Gambar 4.
fisik dan simbol dari potensiometer
E. Relay
Relay
merupakan komponen elektronika yang memiliki fungsi yang hampir sama dengan
saklar/switch, komponen ini bekerja sebagai saklar mekanik yang
digerakkan oleh energi listrik. Relay menggunakan gaya elektromagnetik untuk
membuka atau menutup kontak. Relay digunakan untuk menggerakkan arus atau
tegangan yang besar dengan memakai arus atau tegangan yang kecil. Relay dapat
berfungsi sebagai pengatur logika kontrol untuk suatu sistem.

Gambar
5. Bentuk fisik Relay
F. LED
(Light
Emiting Dioda)
Dioda cahaya atau lebih dikenal dengan sebutan LED (light-emitting diode)
adalah suatu semikonduktor yang memancarkan cahaya monokromatik yang
tidak koheren ketika diberi tegangan maju. Gejala ini termasuk bentuk elektroluminesensi.
Warna yang dihasilkan bergantung pada bahan semikonduktor yang dipakai,
dan bisa juga dekat ultraviolet, tampak, atau inframerah.
Gambar
6. Bentuk fisik dan Simbol
LED
Cara Kerja LED
Karena LED adalah salah satu jenis dioda maka LED memiliki 2
kutub yaitu anoda dan katoda. Dalam hal ini LED akan menyala bila ada
arus listrik mengalir dari anoda menuju katoda. Pemasangan kutub LED
tidak boleh terebalik karena apabila terbalik kutubnya maka LED tersebut tidak
akan menyala.
G. Papan
PCB
Printed
Circuit Board disingkat PCB adlaah sebuah papan yang digunakan untuk mendukung
semua komponen-komponen elektronika yang berada diatasnya. Papan PCB juga
memiliki jalur jalur konduktor yang terbuat dari tembaga dan berfungsi untuk
menghubungkan antara satu komponen dengan komponen lainnya.

Gambar 7. Bentuk fisik papan PCB
H. Baterai
merupakan sumber tegangan pengganti power supplay.
Gambar 8. Bentuk fisik Baterai
I. Kabel
penghubung tunggal
digunakan untuk menghubungkan antara
ujung-ujung kutub .

Gambar 9 kabel penghubung tunggal
Pada
sisi bagian atas LDR terdapat suatu garis atau jalur melengkung yang menyerupai
bentuk kurva.Jalur tersebut terbuat dari bahan cadmium sulphida yang sangat
sensitiv terhadap pengaruh dari cahaya.Jalur cadmium sulphida yang terdapat
pada LDR.Jalur cadmium sulphida dibuat melengkung menyerupai kurva agar jalur tersebut dapat dibuat panjang
dalam ruang (area) yang sempit.Cadmium sulphida (CdS) merupakan bahan
semi-konduktor yang memiliki gap energi antara elektron konduksi dan elektron
valensi. Ketika cahaya mengenai cadmium sulphida, maka energi proton dari
cahaya akan diserap sehingga terjadi perpindahan dari band valensi ke band
konduksi. Akibat perpindahan elektron tersebut mengakibatkan hambatan dari
cadmium sulphida berkurang dengan hubungan kebalikan dari intensitas cahaya yang
mengenai LDR.Lihat gambar dibawah ini.

Gambar 10. Jalur Cadmium
Sulphide pada LDR
Pada saat
gelap atau cahaya redup, bahan dari cakram tersebut menghasilkan elektron bebas
dengan jumlah yang relative kecil. Sehingga hanya ada sedikit elektron untuk
mengangkut muatan elektrit. Artinya pada saat cahaya redup, LDR menjadi
konduktor yang buruk, atau bisa disebut juga LDR memiliki resistansi yang besar
pada saat gelap atau cahaya redup.
Pada saat cahaya terang, ada lebih
banyak elektron yang lepas dari atom bahan semikonduktor tersebut. Sehingga
akan lebih banyak elektron untuk mengangkut muatan elektrit. Artinya pada saat
cahaya terang, LDR menjadi konduktor yang baik, atau bisa disebut juga LDR
memiliki resistansi kecil pada saat cahaya terang.
BAB
111
METODE
PENELITIAN
3.1. Waktu dan Tempat
pembuatan
projek Elektronika Dasar ini dilaksanakan selama 3 hari, mulai dari tanggal 26
sampai 28 November 2016.
Pembuatan
projeck Elektronika Dasar ini dilaksanakan di lingkungan kampus
(Ruang
kelas dan Laboratorium Pendidikan Fisika Universitas Jambi) dan Diluar Kampus
(Rumah).
3.2. Metode Pelaksanaan
Dalam
kegiatan ini, metode yang digunakan dalah metode eksperimen Rancang Acak
Lengkap (RAL). Metode ini dilakukan untuk menguji kefektifan alat dan bahan
yang digunakan dalam membuat Sensor cahaya menggunakan LDR.
3.3. Alat dan Bahan
|
No
|
Alat dan Bahan
|
Jumlah
|
|
1
|
Transistor NPN type
|
1 buah
|
|
2
|
Resistor 100 Ω
|
1 buah
|
|
3
|
Resistor 33.000 Ω
|
1 buah
|
|
4
|
LDR
|
1 buah
|
|
5
|
Lampu LED
|
1 buah
|
|
6
|
Potensiometer 10.000 Ω
|
1 buah
|
|
7
|
Relay
|
1 buah
|
|
8
|
Papan PCB
|
1 buah
|
|
9
|
Baterai 1.5 V
|
2 buah
|
|
10
|
Tempat dudukan
baterai
|
1 buah
|
|
11
|
Kabel tunggal mini
|
1 meter
|
|
12
|
Solder
|
1 buah
|
|
13
|
Saklar
|
1 buah
|
3.4. Prosedur Kerja
Langkah-langkah untuk
merancang sensor cahaya dengan LDR yaitu :
1. Menyiapkan
alat dan bahan yang dibutuhkan untuk merangkai alat
2. Merangkai
alat dan bahan seperti gambar dibawah :

3. Mengatur
resistansi potensiometer agar lampu mati saat keadaan terang dan lampu hidup
saat keadaan gelap;
4. Menguji
coba rangkaian menggunakan lux meter untuk memperoleh data hasil.
5. Mencatat
hasil pada tabel data
6. Membuat
kesimpulan dari percobaan tersebut.
3.5. Pengujian alat
A.
Mengukur
Intenistas alat diruangan dengan intensitas cahaya terang
1. Siapkan
Luxmeter dan sensor cahaya.
2. Pastikan
ruangan pada keadaan terang dengan cahaya yang cukup.
3. Menghidupkan
saklar sensor cahaya.
4. Mengamati
nilai Luxmeter.
5. Hasil
yang didapatkan yaitu nilai Intensitas cahaya pada alat yaitu tidak ada atau
nol.
B.
Mengukur
Intenistas alat diruangan dengan intensitas cahaya redup
1. Siapkan
Luxmeter dan sensor cahaya.
2. Pastikan
ruangan pada keadaan redup dengan cahaya yang kurang terang.
3. Menghidupkan
saklar sensor cahaya.
4. Mengamati
nilai Luxmeter.
5. Hasil
yang didapatkan yaitu nilai Intensitas cahaya pada alat yaitu tidak ada atau
nol.
C.
Mengukur
Intenistas alat diruangan dengan intensitas gelap
1. Siapkan
Luxmeter dan sensor cahaya.
2. Pastikan
ruangan pada keadaan gelap yaitu tidak ada cahaya.
3. Menghidupkan
saklar sensor cahaya.
4. Mengamati
nilai Luxmeter.
5. Hasil
yang didapatkan yaitu nilai Intensitas cahaya pada alat yaitu besar.
BAB
IV
HASIL
DAN PEMBAHASAN
4.1.
Hasil
A. Hasil
Produk Sensor Cahaya
1. Bahan
Baku Hasil Produk Alat

Hasil Produk Alat

B. Data
hasil Perhitungan sensor cahaya berbasis LDR
|
No
|
Intensitas
Cahaya Ruangan
|
Intensitas
LDR dan Ruangan
|
Intensitas
cahaya LDR
|
|
1
|
4275,00 Lux (terang)
|
4275,00
Lux
|
0
Lux
|
|
2
|
530,00 Lux (redup)
|
530,00
Lux
|
0
Lux
|
|
3
|
16,00 Lux
(gelap)
|
31,00
Lux
|
15
Lux
|
4.2.
Pembahasan
Pada
proyek tugas kali ini, kami membuat sensor cahaya berbasis LDR, dimana LDR
merupakan salah satu resistor yang dapat bekerja tergantung pada intensitas
cahaya yang diterima oleh LDR tersebut. Pada kenyataannya, LDR bekerja
tergantung dari intensitas cahaya yang
diterimanya dimana pada saat gelap, bahan dari cakram tersebut
menghasilkan elektron bebas dengan jumlah yang relative kecil. Sehingga hanya
ada sedikit elektron untuk mengangkut muatan elektrit. Artinya pada saat cahaya
redup, LDR menjadi konduktor yang buruk, atau bisa disebut juga LDR memiliki
resistansi yang besar pada saat gelap atau cahaya redup sehingga arus yang
cukup besar dapat mengalir ke LED dapat menghidupkan lampu LED. Pada saat cahaya terang atau redup, ada lebih banyak elektron yang lepas
dari atom bahan semikonduktor tersebut. Sehingga akan lebih banyak elektron
untuk mengangkkut muatan elektrit. Artinya pada saat cahaya terang, LDR menjadi
konduktor yang baik, atau bisa disebut juga LDR memiliki resistansi kecil pada
saat cahaya terang sehingga arus yang diterima LED menjadi kecil dan lampu LED
pun redup bahkan mati.
Kami mengawali percobaan dengan
mempersiapkan alat dan merangkai rangkaian LDR, lalu kami menguji cobakannya di
ruangan gelap dan ruangan dengan cahaya yang cukup. Percobaan pertama dilakukan
dilakukan diruangan gelap , ketika saklar dihidupkan, maka LDR pun bekerja
denagn resistansi yang besar yang dapat menghidupkan lampu LED akibat adanya
arus yang diterima oleh LED kemudian kami matikan saklar. Kemudian percobaan
kedua yaitu kami percobakan diruang dengan intensitas cahaya yang redup, saat
saklar di hidupkan, LDR pun bekerja dengan menghasilkan resistansi yang sedang,
sehingga lampu LED menyala dengan redup kemudian kami matikan saklar kembali.
Kemudian
percobaan ketiga yaitu kami meguji coba di ruangan yang intensitas cahayanya
cukup terang, saat saklar dihidupkan, maka LDR bekerja sebagai penghasil
resistansi yang kecil, sehingga lampu LED menjadi tidak menyala. Percobaan ini
kami lakukan berulang ulang. Ini sesuai dengan prinsip kerja LDR sebagai sensor
cahaya, maka percobaan yang kami lakukan pun berhasil.
Kemudian
kami mengambil data pengamatan sebanyak tiga kali, yaitu saat intensitas cahaya
ruangan 4275,00 Lux yaitu saat cahay
diruangan terang, maka kami tempatkan LDR tersebut diruangan gelap dan
Intensitas LDR dan Ruangan yaitu 4275,00 Lux, lalu saat Intensitas Cahaya diruangan sebesar 530,00
Lux saat lampu ruangan redup, maka
Intensitas LDR dan Ruangan yaitu 530,00 Lux, kemudian untuk intensitas Cahaya
Ruangan gelap sebesar 16,00 Lux, maka
Intensitas LDR dan Ruangan yaitu sebesar 31,00 Lux,
Untuk
mendapatkan Intensitas cahaya dari alat LDR maka digunakan rumus:
|
Dari
rumus diatas didapat Intensitas cahaya LDR dalam keadaan ruangan denga
cahaya terang dan redup sebesar 0 Lux artinya Intensitas
cahaya LDR tidak ada atau LDR tidak menghasilkan cahaya, sedangkan saat berada
pada ruangan yang gelap intensitas cahaya pada LDR yaitu sebesar 15 Lux,
artinya terjadi aliran arus pada LED dan menghasilkan Cahaya pada LED, sehingga
LDR kamipun bekerja. Hal ini terjaid karena sesuai prinsip kerja LDR, dimana Pada saat
gelap bahan dari cakram tersebut menghasilkan elektron bebas dengan jumlah yang
relative kecil. Sehingga hanya ada sedikit elektron untuk mengangkut muatan
elektrit. Artinya pada saat cahaya redup, LDR menjadi konduktor yang buruk,
atau bisa disebut juga LDR memiliki resistansi yang besar pada saat gelap atau
cahaya redup sehingga arus yang cukup besar dapat mengalir ke LED dapat
menghidupkan lampu LED.
Pada saat cahaya terang atau redup,
ada lebih banyak elektron yang lepas dari atom bahan semikonduktor tersebut.
Sehingga akan lebih banyak elektron untuk mengangkkut muatan elektrit. Artinya
pada saat cahaya terang, LDR menjadi konduktor yang baik, atau bisa disebut
juga LDR memiliki resistansi kecil pada saat cahaya terang sehingga arus yang
diterima LED menjadi kecil dan lampu LED pun redup bahkan mati. Artinya
praktikum yang kami lakukan berhasil sesuai prinsip, meskipun hasil yang kami
dapatkan cukup berhasil, namun alat dan bahan serta cara pembuatan yang kami
dapatkan kurang efektif sehingga dapat menjadi evaluasi.
BAB
V
PENUTUP
5.1.
Kesimpulan
A. Sensor cahaya adalah alat yang
digunakan untuk mengubah besaran cahaya menjadi besaran listrik. LDR
merupakan salah satu jenis resistor yang disebut sebagai fotoresistor. Nilai hambatan LDR
dipengaruhi oleh cahaya yang diterima
dari lingkungan sekitar. Resistansi LDR dapat berubah-ubah tergantung
pada intensitas cahaya yang diterima oleh LDR itu sendiri.
B. Komponen-komponen
pokok sensor cahaya LDR yaitu :
1. Transistor
type
2. Resistor
dengan nilai 100 Ohm dan 33000 Ohm
3. LDR
4. Potensiometer
5. LED
6. Relay
C.
Prinsip kerja LDR yaitu
Cadmium sulphida (CdS) merupakan bahan
semi-konduktor yang memiliki gap energi antara elektron konduksi dan elektron
valensi. Ketika cahaya mengenai cadmium sulphida, maka energi proton dari
cahaya akan diserap sehingga terjadi perpindahan dari band valensi ke band
konduksi. Akibat perpindahan elektron tersebut mengakibatkan hambatan dari
cadmium sulphida berkurang dengan hubungan kebalikan dari intensitas cahaya
yang mengenai LDR.
5.II.
Saran
Project
sebaiknya diperbaiki lagi, dan menggunakan alat dan bahan yang lebih lengkap
serta sesuai dengan standar. Dalam pembuatan project harus lebih meningkatkan
ketelitian dan keseriusan, serta memperbanyakn memahami literature yang
menunjang,
DAFTAR
PUSTAKA
Hidayat, samsul,Dkk. 2009. Rancang Bangun Atap Sirip Otomatis
Menggunakan LDR Dan Sensor Tetes Air Hujan Berbasis Mikrokontroler. Diakses
pada tanggal 27 November 2016. Diakses di: Http//www.Dokumentips.com.
Mustofa.2013. Rangkaian Lampu
Otomatis Menggunakan LDR (Light Dependent Resistor). Malang: Universitas
Negeri Malang.
Supatmi.
2011. Pengaruh Sensor LDR terhadap
Pengontrolan Lampu. Diakses pada tanggal 27 November 2016. Diakses di: http://jurnal.unikom.ac.id/jurnal/
pengaruh-sensor-ldr-terhadap.1n.
Widyanita, Romi. 2014. Aplikasi LDR Sebagai Pendeteksi Warna
Berbasis Mikrokontroler. Yogyakarta. Diakses pada tanggal 27 November 2016.
Diakses di: https://www.google.com/search?q=jurnal+romi+widyanita+%
2C+sensor+LDR&ie=utf-8&oe=utf-8.
LAMPIRAN
1.
Alat
dan bahan
1.Transistor 2. Resistor 3. LDR

4.
Potensiometer 5,Relay 6.
LED
7. Baterai
8. Dudukan
Baterai 9.Papan PCB

10.
Saklar 11.
Kabel tunggal 12.
Solder
13. Gunting

2.
Proses
pembuatan alat
1. Mempersiapkan
alat dan bahan 2. Merangkai alat pada papan
breadboard

3.merangkai
pada papan PCB 4.
Menyolder alat

5.hasil
produk 6.
Pengujian produk

ok terima kasih ;)
Langganan:
Postingan (Atom)





